Pemarah (Ego State dalam Diri Manusia)

PEMARAH

“Di mana saja, kapan saja , selalu saja marah-marah”

Kenapa ini bisa terjadi?. Kenapa marah bisa jadi adiksi?

Diawali dari menyikapi sesuatu yang terjadi dengan marah, intensitas marah terus bertambah seiring waktu dan pada akhirnya menjadi habit atau kebiasaan bahkan menjadi kecanduan marah. Apapun kejadiannya dihadapi dengan marah, bahkan suatu hal yang tak pantas dimarahi, dia akan marah juga. Ini terjadi karena ego state yang dominan dalam dirinya adalah si pemarah.

Apa itu Ego State

Ego state adalah salah satu bagian dari sekumpulan kelompok yang mempunyai kesetaraan keadaan atau kondisi emosional, yang dibedakan berdasarkan tugas khusus perasaan dan fungsi mental khusus, saat di mana kesadaran diasumsikan sebagai identitas dari orang tersebut.

Ego State, menurut Watkins & Watkins, adalah sebuah sistem perilaku dan pengalaman yang terorganisir yang elemen-elemennya saling terhubung melalui beberapa prinsip yang sama tetapi saling dipisahkan oleh batas-batas yang dapat ditembus (permeabilitas) hingga derajat kedalaman dan fleksibilitas tertentu.

Dalam diri manusia banyak sekali ego state yang terbentuk sejak masa kecil. Ego state atau ada yang menyebut state saja adalah mini personaliti, personaliti kecil dalam diri kita. Sebenarnya tanpa sadar setiap hari kita memainkan ‘drama’ dalam kehidupan ini. Saat senang kita akanenampilkan pelakon gembira, artínya mini personaliti bagian dalam diri kita yang memiliki sifat gembira menjadi dominan sesaat. Kita bisa menampilkan diri sebagai orang yang penyabar, pada saat itu si penyabar sedang dominan dan memainkan akting dalam ‘drama’ kehidupan kita.

Sering kita melabel seseorang sebagai pemarah, karena yang sering kita lihat dari dirinya adalah marah dan marah. Apakah orang tersebut selalu marah, tidak juga ada, pada  saat lain bisa juga ramah, kadang lucu bahkan bisa jadi pendiam.

Mengapa seseorang menjadi pemarah?

Gampangnya begini, saya contohkan dalam kehidupan kita sehari-hari kita selalu memainkan ego state yang bermacam-macam.Saat di rumah kita memilih egostate orang tua di depan anak anak, ego state pemimpin di depan anak buah, sebagai anak di depan orang tua.

Nah state pemarah ini yang dominan sering muncul, kadang pemantiknya kecil saja, ego pemarahnya keluar dengan cepat. Kebiasaan marah akan melekat menjadi habit yang akhirnya mencipakan satu entitas ego state sang pemarah. Sang Pemarah akan sering muncul Karena telah mendominasi ego state lain-lainnya. Keseringan marah ini memupuk dan menstimulasi ego state pemarah ini menjadi paling besar dibanding ego state lain. Pemarah menjadi label seseorang yang melekat dengan karakternya.

“alah bisa karena biasa”

Sebuah pribahasa yang akrab di telinga kita, kebiasaan akan menghasilkan refleks dalm setiap merespon apapun yang dating dari luar. Kebiasaan berucap baik akan otomatis keluar yang baik-baik pada saat marah sekalipun, sebaliknya kebiasaan berucap jelek juga akan secara refleks keluar dengan mudah pada mulut seseorang Karena kebiasaannya sehari-hari.